Bagi Teman2ku yg lucu, kalo mo ninggalin Pesan, titip salam, atau kalo perlu minta do’a ama saya mending di sini aja yachh….!!!
Bagi Teman2ku yg lucu, kalo mo ninggalin Pesan, titip salam, atau kalo perlu minta do’a ama saya mending di sini aja yachh….!!!
Wah saya merasa terhormat diminta berkomentar diblog mas Arifin ini, dan lebih tersanjung (kl dibiarin ntar jadi terjungkal dan terjerembablo!) ketika melihat nama saya dipajang di kategori para dosen. Semoga ini bkn pelecehan.
Mas Arifin, terus terang saya kaget membaca komentar-komentar anda pada tulisan “agak serius saya” di blog saya. Sungguh suatu kemajuan yg tdk terbayang utk 2-3 tahun lalu. Saya menjadi bangga krn walaupun tdk banyak minimal saya pernah menemani mas Arifin dlm berproses bersama di kelas.
Baik, untuk sementara mungkin cukup dulu ntar kita bisa berjibaku lewat tulisan-tulisan yg semoga mencerdaskan bagi tumbuh kembangkan kemanusiaan yg berperadaban. Saya tunggu. Sekian, semoga manfaat.
Wassalam.
Assalamu’alaikum
pertama kali kami ucapkan terima kasih kepada pujian yang bapak berikan, walaupun (ma’af) hal tersebut juga menjadi beban, tetapi hal tersebut mempunyai hikmah tersendiri, sebagai pemacu untuk belajar dan belalajar yang giat lagi. Banyak sekali pengetahuan (pemikiran Islam, sebagai bidang garap saya) sangat miskin, do’akan kami ke depan dapat lebih perfect secara intelektual.
memang ada perubahan dalam proses pembelajaran pasca saya dipaksa untuk mengambil cuti. sejak kebijakan wajib cuti dikenakan bagi para mahasiswa yang terlambat bayaran, maka “waktu luang” tersebut banyak yang aku gunakan untuk membaca buku, dan literatur filsafat, sosiologi dan pemikiran Islam. Tetapi walaupun begitu, banyak sekali pengetahuan yang saya peroleh masih minim sekali, dan Insya Allah kedepan aku semakin sering membaca literatur ‘pemikiran Islam’ lagi.
motivasi untuk belajar untuk mengisi waktu kekosongan kuliah tersebut ditambah dengan fakta bahwa ketika dikampung sering ditanya apa itu filsafat, postmodernisme, marxisme, sosialisme dll?, apa itu pemikiran islam, Islam Liberal, theologi Pembebasan dll?, apa itu gender, kapitalis, sosialis? apa itu bid’ah, ikhtilafi, ushuliyy atau furu’i?, dsb, saya tidak dapat menjawabnya apalagi untuk mendiskusikan. ketika itu hanya mengandalkan jawaban, “aku kuliahnya tidak serius kok, jadi aku tidak tau” sampai saya sendiri malu terhadap diri saya sendiri dimana hanya saya satu-satunya warga kampung yang mengambil kuliah di jurusan filsafat.
Sejak saat itu aku “terbuka” dengan pemikiran para pemikir Islam alternatif, walaupun banyak sekali hal yang aku tidak menyetujuinya. Sering meng-copy makalah di situs islamlib.com, disamping membaca Islamia, Sabili, Hidayatullah, Swaramuslim dll , ditunjang dengan membaca filsafat barat, seperti Postmodernisme, strukturalisme, dll. sebenarnya masih banyak sekali pengetahuan yang ingin saya kuasai dan sangat urgen untuk pemikiran Islam, yaitu sejarah pemikiran Islam dalam tinjauan sosio-ekonomi, buku tersebut tidak aku miliki, walaupun hal tersebut ingin aku miliki, untuk mempertajam analisa.
selain itu banyak sekali tuntutan yang memotivasi agar dapat lebih,
1) tuntutan untuk tidak membicarakan tema yang sama ketika berdiskusi dengan diskusi yang lalu,
2) tuntutan dari temen2 secara tidak langsung kepada saya, agar dapat lebih ‘perfect’ secara intelektual,
3) saya merasa tertuntut untuk memberikan masukan kepada teman2 yang ingin melakukan dialog dengan saya, baik itu masukan2 tugas membuat makalah, tugas apa yang akan dipresentasikan, dll.
4) tidak terjebak dengan penggunaan istilah2 yang lazim digunakan dalam diskusi2 pemikiran islam, seperti; istilah ‘konteks’, ‘atas nama Tuhan’, ‘Kepentingan’ , “Bebas Nilai”, “Kebebasan” dll. walaupun kata2 tersebut sangat teknis untuk mendiskusikan pemikiran Islam, tetapi saya melihat hal tersebut sebagai istilah2 penghambat kreativitas.
(keempat hal tersebut merupakan rahasia belajar saya, dan seakan datang begitu saja kepada saya).
tuntutan tersebut hanya ada ketika aku di Kampus, hanya dikampuslah tuntutan tersebut dapat eksis. mungkin ketika sudah lulus kuliah (seandainya sampai tamat), atau keluar dari kampus, saya tidak lagi mau giat membaca dan berfikir, dikarenakan tuntutan2 diatas sudah tidak ada lagi. memang betul, bahwa belajar itu tidak perlu dituntut (tuntutan oleh kampus, tuntutan “perfectitas’, motivasi tertentu dll) tetapi belajar tanpa (tuntutan) itu kebanyakan hanya sebatas tahu saja dengan membolak-balikan kertas belaka.
Terkadang belajar dengan tuntutan atau ambisi tertentu itu lebih baik daripada belajar yang tidak mempunyai ambisi apapun kecuali hanya sebatas tahu. Ma’af, seandainya saya mengutarakan “cara belajar’ yang kurang “islami” tapi memang begitulah faktanya, setidaknya bagi saya sendiri.
Banyak sekali perbedaan pemikiran dengan temen2 (yang sekarang sudah menjadi intelektual muda), seperti Saiful Bari, Ali Usman, dan Ridho Al Hamdi dalam wacana pemikiran Islam. Mereka mengambil arah pemikiran Islam ke arah “dekonstruktif”, sedangkan saya ke arah “rekonstruksi” dengan mempertahankan asas-asas fundamental dalam “fikih klasik”.
mungkin itulah perbedaan saya dari para temen2 yang lain. Apalagi pemikiran2 yang berkembang pada kebanyakan intelektual di Ushuluddin mengambil jarak dengan cara berfikir sebagaimana cara berfikir saya yang dinilai terlalu konservatif.
Justru dalam ’suasana’ melawan arus pemikiran tersebut, tuntutan untuk mempertajam argumentasi menjadi tuntutan yang lain dalam proses belajar. Kalau dulu hanya berfikir pelajaran “ushul Fiqh” hanya sampai lulus dari madrasah, tetapi ketika digunakan untuk menajamkan argumentasi dalil Ushul Fiqh (terutama pada tingkat epistemologi; AL Qur’an, As Sunnah, Ijma’ dan Qiyas) hal tersebut dapat didalami lagi dan ditambah dengan argumentasi rasional. Menjelaskan Islam (fikih Klasik) secara rasional lebih berat daripada mengkritik islam (fikih klasik), sehingga butuh “kerja extra keras” untuk menjelaskan posisi pemahaman islam (Klasik). kalau dulu akhlaq, fikih, pelajaran ibadah, aqidah dan ajaran islam lainnya hanya sebatas pelajaran tentang dogma islam, tetapi sekarang ada tuntutan moral untuk mendalami serta menjelaskan hal tersebut dengan cara logis, sistematis dan dapat dimengerti.
walaupun banyak sekali tuntutan tersebut, saya merasa apa yang saya peroleh ini jauh dari standart tuntutan2 tersebut. Dan apa yang bapak tuliskan merupakan suatu dorongan tersendiri bagi saya untuk terus berkarya dan berkarya lagi. oelh karena itu kami ucapkan banyak terima kasih
Wallahu A’lam ..
Wassalamu’alaikum wrwb
penggemar Spiderman juga ya???
wahhhh.. hebat dong. entar kalo aku jadi produser spiderman 4 entar loe aja yg aku suruh jadi stuntman aja yachhh.. kerjaannya mudah kok, loe entar yg bagian pegang setrum aja
ngapain ngritik2 Hermeneutika dan ikutan KAMMI segala.. bukan lah loe sendiri juga pembela Ahmadiyah… bercermin dong!!!
Tulisan saya yg berjudul “Sekali Lagi tentang Ahmadiyah” sama sekali bukan bentuk pembelaan terhadap mereka. Tetapi mencoba menggambarkan bagaimana perasaan mereka itu sendiri terhadap islam. Kita sama2 tau, banyak sekali aspek persamaan, tidak hanya di bidang syari’ah melainkan juga persamaan di bidang emosional.
Kalaupun kita baca dalam Kitab Al Tadzkirah, atau kumpulan ilham yang idterima oleh Ghulam Ahmad, kita emang menjumpai berbagai hal yang berkaitan dengan ekslusivitas ajaran mereka, dan usaha untuk membedakan diri terhadap kaum muslimin, bahkan mengidentikkan muslim non ahmadiy sebagai “kafir”. Tetapi dalam kenyataannya, kaum ahmadiy telah melakukan revisi, dan menurutku lebih banyak mengambil bentuk syari’at daripada ucapan Ghulam Ahmad itu sendiri.
ucapan Ghulam Ahmad tersebut yg banyak bertentangan dengan syari’at Islam dicoba untuk dilakukan ekspolarasi terhadap “sebab” ucapan Ghulam Ahmad itu muncul. misalnya dalam tadzkirah dijelaskan ttg ketidakbolehan makmum di belakang non ahmadiy, dicarikan sebab dengan bagaimana reaksi kaum non ahmadiy terhadap ghulam itu sendiri.
Dalam realitasnya, kaum ahmadiy bersedia untuk bermakmum di belakang non ahmadiy, bersyahadat sebagaimana syahadatnya kaum muslimin lainnya. Saya sendiri tidak tau fungsinya apa itu Ghulam di “kepala” kaum ahmadiy. apakah sebagai Nabi tanpa pembawa syariat? sebagai seorang Masih yang dijanjikan? sebagai mujadid? sebagai seorang wali yang menerima ilham? atau apa lagi..
tapi setau saya, kaum ahmadiy menafsirkan Ghulam sebagai nabi non syariat, juga sebagai masih yang dijanjikan (bukan berarti ia sebagai Isa Al Masih, tetapi sebagai seorang yg bertugas meluruskan apa2 yg telah disampaikan oleh Al masih yang sudah banyak dibelokkan, so, mereka/ahmadiy, banyak yg berkutat untuk menjelaskan teologi kristen kepada kaum kristen). Tetapi ia juga dianggap sebagai wali karena tingkat makrifatnya yang mana darinya mampu mencapai tingkat menerima ilham (dalam ahmadiyah disamakan dengan wahyu, walaupun tidak memuat tuntutan syar’i sekalipun).
jadi mereka masih mempunyai pandangan kehidupan dimana meletakkan Allah dan Islam di atas yang lainnya, bahkan pernyataan Ghulam Ahmad yg tidak bersesuaian dg islam, tidak ditemukan dalam bentuk praktek kehidupan mereka. walaupun Tadzkirah masih menjadi bacaan mereka.
Saran saya kepada Kaum Ahmadiyy;
1. Tolong Kalau kepercayaan Ghulam hanya sebagai Nabi non syar’i dan tidak begitu penting dalam kedudukan theologi ahmadiy, kenapa tidak meninggalkan kepercayaan tersebut? karena ukhuwah islamiyah itu lebih penting daripada kepercayaan hanya sebatas kepada Nabi non syariat.
2. Pengakuan terhadap Ghulam, akan berdampak menjamurnya “Nabi2 palsu” lainnya, dan akan memunculkan suatu bentuk legitimasi, apabila kaum Ahmadiyah diberikan legalitas sebagai bagian dari kehidupan kaum muslimin. saya kira selain Al Qiyadah dan Lia Aminudin, terus saya kira akan menyusul lagi nabi palsu, apabila tidak bertindak tegas terhadap salah satunya. Dan pada akhirnya akan mengorbankan keharmonisan di tubuh ummat islam lainnya.
3. Semoga kaum Ahmadiy menyadari kedatangan Ghulam Ahmadiyah di kalangan kita (Ahmadiy ataupun Non Ahmadiy) lebih banyak mendatangkan kemudharatan dariapda rahmat sebagaimana kepercayaan kepada Ghulam Ahmad itu sendiri.
ketiga hal itu semestinya diperhatikan untuk mempertimbangkan status al Mahdi, karena Muh. Iqbal pun sendiri tidak mengakui kenabian Ghulam dikarenakan sifat dari Ghulam Ahmad itu sendiri. dan tambah lagi dampak dan akibat yang ditanggung dari Islam itu sendiri jauh lebih penting daripada penyebaran bahwa Ghulam itu sebagai seorang Nabi.
tetapi dalam melakukan dakwah kepada mereka, jangan memakai bentuk kekerasan, karena bagaimanapun kita harus menjadikan mereka sebagai seorang kawan muslim dan menghindarkan pemberian label kafir kepada mereka. karena pelabelan kafir malah akan menyebabkan disfungsional belaka dalam melakukan kerja dakwah. Itulah merupakan inti dari posting kami, sama sekali bukan pembetulan realitas adanya Ahmadiyah, tetapi dalam melakukan praktek dakwah jangan melakukan kekerasan dan pelabelan kafir.
Walaupun kita harus konsisten terhadap keyakinan kita. Banyak orang yang terang2an membela Ahmadiy dan mengucapkan bahwa mereka bukan bagian dari ahmadiy dan tidak setuju ama Ahmadiyy, dan menekankan dialog, tetapi golongan itu, yang biasa diwakili oleh JIL, tidak konsisten dengan pernyataannya. mereka sama skeali tidak pernah mengkritik atau menyadarkan kaum ahmadiy terhadap kepercayaan, membiarkan, membela tanpa memperhatikan dampak apa yang harus ditanggulangi oleh ummat islam terhadap keberadaan ahmadiyah.
oke… salut deh atas jawaban anda yang panjang lebar yang menunjukkan loe itu seorang muslim moderat tetapi sekaligus sebagai seorang muslim yang konsisten dalam memperjuangkan islam, walaupun berbeda dengan kami (FPI). salut atas pemikiran dan kiprah loe di KAMMI.
thank’s and salam kenal selalu
gue jg banyak liat posting kamu di banyak blog, ternyata kita punya banyak kesamaan ya.. dari ciri khas tulisan yang panjang lebar, kesamaan bentuk argumentasi dll. kayaknya aku juga cocok juga ya aktif di FPI?
sebenarnya kalo kita banyak kesamaannya gak bagus, koz gak ada yang didiskusikan lagi..
aku dah baca tulisanmu tentang “Dampak Hermeneutika”, terus terang itu merupakan bacaan yang aku butuhkan sebagai alat argumentasi untuk mencegah penyelewengan penafsiran.. thanx telah memberikan ilmu.
pikiran kita kan hampir sama, bagaimana kalo loe sekarang nulis seakan2 loe jadi orang liberal terus aku bantah,.. ( biar ada yg beda, kan seru kalo beda!!)
oke man, sandiwara aja gimana ya? loe jadi orang liberal, trus aku jadi orang fundamental hehehehe….
gue baru inget kalo kita juga bnyak kesamaannya juga ya…
termasuk sama2 ‘agak gila’ juga (….. gila apa gue loe suruh jadi orang liberal??)
loe aja yang jadi orang liberal gue yang jadi orang fundamental… hahaha
tapi kuncinya jadi orang liberal itu mudah kok.. jadilah orang lugu loe akan keliatan jadi orang liberal.
oke.. salam for all member of FPI aja yachh…
pusiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…..bacaan2 nya ko bikin aku mumet yah????
aku islam,beriman,muslimah,dan insyallah di jalan yang benar…marilah kita berdamai2..jangan pusing2 meributkan sesuatu yang jelas ga bener ntar malah makin ga bener…..mending kita santai ajah…yang jelas terus menjadi mujahid…ok
wahh.. makacihhh banget telah add comment di blog gue. Jadi ada tambahan orang yang merhatiin blog saya dong. Maklum, mbak.. blog saya baru tahap “marketing” jadi ya.. kerap say hello ke temen2 atau kemana aja.. yang kira2 dapet bales postingan gue hahahaha
omong2 mumet baca tulisan saya ya, mbak? sebenarnya gak usah diambil pusing, mbak. Kita semua Islam, dan disini ga ada saling mengkafirkan. Jadi nyantai aja… (kegunaan blog itu mencari temen, bisa canda dan ketawa bersama2… so???)
disini yang ada cuman komunitas gaul, Klo ada yang diributin gak masalah mbak (apalagi antara aku ama Joko), daripada ga ada yg diributin, entar malah sepi dong …. hehehe…. Klo ada yg ngritik, biasa mbak… bales aja yg bisa bikin pengkritik bisa tertawa and tersenyum liat jawaban kita yang konyol hehehe
Oke… deh.. entar kalo dah pulang dari Rusia tolong bawa oleh2 Beruang Merah aja ya.. hehehe (sorry canda)
to: Mbak Hidayanti
assalamu’alaikum wr wb
nyantai aja mbak.. kita ini bukan kumpulan drakula kok yg sukanya gigit orang, sebagaimana gambaran orang (lebih tepatnya media massa) tentang kami.
kita juga bisa canda, suka banyol, penyayang dan murah senyum (hehehe, sorry muji sendiri nihhh).
Pokoknya kaum Ibu ga mungkin kecewa dech.. dapet menantu kaya’ kita2 ini. Oke… salam kenal saja. pokoknya jangan kapok numpang komentar disini, mbak. Arifin kan Tuan Rumah yang ramah.. gak mungkin bisa galak hehehe…
wassalamu’alaikum wr wb
tul, mas……!!!! (tumben lw muji gue)
gue tuh pernah dinobatin jadi “most perfect of the son in law prospective” tingkat ibu PKK RT.
soalnya di kampung gue tuh hanya gue satu2nya pemuda yg paling sering nongolnya sdg yg lainnya sich sama suka sembunyi di rumah masing2 (sibuk jadi pelajar atau jadi anak mami, kaliiii). hehehehe…
Untung aja ga ada Kumpulan Pemuda Karang Taruna di kampung gue. Coba kalo ada, bisa aja gue bisa ngrangkap jabatan. Dari Ketua Karang Taruna, bendahara, sekretaris sampai anak buah semua bisa gue rangkap. Coba dech dibayangin apabila sebuah organisasi anggotanya cuman satu orang.
tapi ga apa2…. so that, gue jg pernah dapet gelar “maskot kampung” hahahaha
salam kenal ajah
salam kenal juga ‘n jgn kapok mampir ke blog yg super cerewet ini, yach..!
Oya salam kenal mas Arifin…
calam kenal juga…
(baru kali ini aku kenalan ama ultraman….. doain besok dapet kenalan ama spiderman, superman, batman, paiman… hehehehe
salam kenal dulu aja buat mas arifin…
tulisannya ok banget…
salam kenal juga..
terimakasih atas pujiannya, tapi kayaknya baru mas dech yang nilai seperti itu, hehehe… tapi Insya Allah itu akan menjadi pemicuku untuk terus berkarya. Sekali lagi .. thank’s banget
salaam.. pin kapan main ke Solo?? Nih nomer ku sekarang…02717986671
salam kenal
jika berkenan mohon kita bisa tukeran link guna menambah sahabat, semoga pula sudi mampir dan jadikan aku sahabat blog, ya
Salam Takzim om
Menulis kadang salah
Singgah kadang tak teratur
Inginnya melepas salah
dengan Jarak coba ku Atur
Minal A’idin Wal Faidzin, mohon maap lahir dan batin